Houston, Texas – Dunia tinju kehilangan salah satu ikon terbesarnya. George Foreman, petinju kelas berat yang menakutkan di dua era berbeda, meninggal dunia pada usia 76 tahun. Kabar duka ini disampaikan oleh keluarganya melalui unggahan di Instagram, menyebut Foreman sebagai “sosok ayah, suami, dan legenda yang akan selalu dikenang.”
Foreman dikenal sebagai petinju dengan pukulan paling mengerikan dalam sejarah tinju. Ia pertama kali mencuri perhatian dunia saat meraih medali emas Olimpiade 1968 di Mexico City, setelah menghentikan perlawanan petinju Uni Soviet, Jonas Čepulis, di final kelas berat super. Dengan medali emas tergantung di lehernya, Foreman mulai menapaki karier profesional yang kelak menjadikannya salah satu nama terbesar dalam dunia tinju.
Puncak Kejayaan dan “Down Goes Frazier!”
Kesuksesan Foreman di ring profesional mencapai puncaknya pada 22 Januari 1973, ketika ia merebut gelar juara dunia kelas berat dengan cara yang brutal. Dalam pertarungan melawan Joe Frazier di Kingston, Jamaika, Foreman yang berstatus underdog justru tampil dominan. Frazier, yang saat itu memegang rekor sempurna 29 kemenangan tanpa kekalahan, tak mampu menahan kekuatan pukulan Foreman. Dalam dua ronde singkat, Foreman menjatuhkan Frazier enam kali sebelum wasit menghentikan laga.
Momen ini melahirkan komentar legendaris dari Howard Cosell yang berteriak, “Down goes Frazier! Down goes Frazier!” – sebuah kalimat yang masih dikenang oleh penggemar tinju hingga hari ini. Kemenangan tersebut menjadikan Foreman sebagai juara dunia kelas berat yang ditakuti dan disegani.
Namun, kejayaan Foreman tidak berlangsung lama. Pada 30 Oktober 1974, dalam laga bersejarah bertajuk “Rumble in the Jungle” di Kinshasa, Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo), Foreman bertemu dengan Muhammad Ali. Foreman yang diunggulkan menjadi korban taktik rope-a-dope Ali. Ali membiarkan Foreman memukulnya ke arah tali, hingga akhirnya Foreman kehabisan tenaga. Di ronde kedelapan, Ali melepaskan kombinasi pukulan yang menjatuhkan Foreman, memberikan Foreman kekalahan pertama dalam karier profesionalnya. Kekalahan itu mengguncang Foreman dan sempat membuatnya kehilangan arah.
Pensiun dan Kembalinya Sang Legenda
Foreman sempat bangkit dengan kemenangan epik atas Ron Lyle pada 24 Januari 1976, dalam pertarungan brutal yang dinobatkan sebagai Fight of the Year oleh The Ring Magazine. Namun, kekalahan dari Jimmy Young pada 17 Maret 1977 di Puerto Rico menjadi pukulan telak bagi Foreman. Ia kemudian memutuskan pensiun dari tinju dan beralih menjadi seorang pendeta.
Selama masa pensiunnya, Foreman mengubah kepribadiannya yang penuh amarah menjadi sosok yang lebih tenang dan religius. Namun, pada 1987, Foreman membuat keputusan mengejutkan: ia kembali ke ring tinju di usia 38 tahun. Banyak pihak meragukan keputusan tersebut, tetapi Foreman membuktikan bahwa kekuatan pukulannya masih bertahan.
Pada 19 April 1991, Foreman bertarung melawan Evander Holyfield untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas berat. Meski kalah angka setelah 12 ronde, Foreman menunjukkan ketangguhan luar biasa melawan lawan yang jauh lebih muda.
Puncak keajaiban terjadi pada 5 November 1994. Foreman menghadapi Michael Moorer, juara dunia kelas berat yang 19 tahun lebih muda darinya. Foreman terlihat kelelahan dan kalah dalam sembilan ronde pertama. Namun, di ronde kesepuluh, Foreman melepaskan pukulan kanan keras yang menjatuhkan Moorer ke kanvas. Komentator Jim Lampley berteriak, “It happened!” – sebuah momen yang dikenang sepanjang masa. Foreman pun dinobatkan sebagai juara dunia kelas berat tertua dalam sejarah pada usia 45 tahun.
Warisan Sang Legenda
Setelah kemenangan bersejarah itu, Foreman kembali bertarung hingga tahun 1997 sebelum akhirnya pensiun untuk selamanya. Di luar ring, Foreman juga dikenal sebagai pengusaha sukses dengan produk George Foreman Grill yang terjual lebih dari 100 juta unit di seluruh dunia.
George Foreman meninggalkan warisan besar dalam dunia tinju dan kehidupan pribadi. Ia adalah simbol ketangguhan, keberanian, dan kebangkitan. Dunia tinju kini berduka atas kepergiannya, tetapi kisah dan pencapaiannya akan selalu dikenang oleh para penggemar dan generasi mendatang.
“Selamat jalan, Sang Legenda. Ring tinju tak akan pernah sama tanpamu.” ( Red )


















































