Pematangsiantar — Peringatan/Haul atas wafatnya Guru Besar Prana Sakti Indonesia, K.H. Drs. Asfanuddin Panjaitan, berlangsung khidmat pada Minggu (21/9) di Siantar Hotel, Kota Pematangsiantar. Acara dimulai pukul 09.10 WIB dengan rangkaian kegiatan yang sarat makna, sekaligus menjadi momentum mengenang perjuangan beliau dalam mengembangkan ilmu tenaga dalam Prana Sakti yang berpijak pada nilai-nilai Islam.
Haul kali ini diawali dengan penyantunan anak yatim dan pengucapan ikrar Prana Sakti yang penuh semangat: “Apapun yang terjadi sampai mati saya tetap berpegang teguh kepada Allah, Laa Ilaaha Illallaah.” Ikrar ini menjadi pengingat kuat bahwa ajaran Prana Sakti merupakan ruh tauhid, sebagaimana selalu ditekankan oleh almarhum Guru Besar.
Sebelum acara resmi dimulai, para anggota dan pelatih Prana Sakti berkumpul dengan duduk bersila mendengarkan arahan Tuan Guru Dr. dr. H. Mahruzar Lubis, Sp.PD yang hadir bersama rombongan dari Medan. Suasana penuh khidmat berubah semangat saat ikrar diucapkan serentak. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan latihan dasar, pernapasan, hingga tenaga dalam, yang menegaskan kesinambungan ilmu yang diwariskan.

Tampak hadir dalam kesempatan itu sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pematangsiantar Drs. H. Natsir Armaya Siregar, Mantan Pabung Kodim 0207/SML Letkol Inf (Purn) Sunaryo, serta Komunitas Cerita Siantar Dulu (CSD) yang di ketuai Yudi Siregar, SH, MH.
H. Natsir Armaya yang dikenal sebagai salah satu anggota senior mengaku telah lama mengikuti latihan Prana Sakti. Menurutnya, manfaat yang diperoleh tidak hanya sebatas kesehatan fisik, tetapi juga memperkokoh aqidah tauhid sehingga selalu merasa dekat dengan Allah SWT.

Acara haul dipandu oleh Juli Harahap sebagai pembawa acara, diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Al-Ustadz Hariri, Imam Besar Masjid Raya Pematangsiantar. Sambutan disampaikan oleh Ketua Prana Sakti Kota Pematangsiantar Drs. Koni Ismai Siregar, perwakilan Dandim 0207/SML, perwakilan Walikota Pematangsiantar Camat Siantar Barat Herwan AR Saragih, serta Tuan Guru Dr. dr. H. Mahruzar Lubis, Sp.PD.
Dalam sambutannya, Drs. Koni Ismai Siregar menyampaikan terima kasih atas kehadiran seluruh tamu undangan dan rombongan Tuan Guru dari Medan. Ia juga melaporkan bahwa saat ini Prana Sakti Siantar-Simalungun telah memiliki 157 anggota aktif, termasuk lima anggota baru yang datang dari Bagan Batu. Ia menegaskan, kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk memimpin Prana Sakti merupakan amanah dari Tuan Guru Mahruzar dan sejumlah tokoh masyarakat, termasuk Ketua MUI Siantar, Ustadz M. Ali Lubis.

Mewakili Walikota, Camat Siantar Barat Herwan AR Saragih menyampaikan apresiasi atas acara haul ini dan mendukung pengembangan Prana Sakti di seluruh kecamatan dan kelurahan di Kota Pematangsiantar.
Tuan Guru Dr. dr. H. Rudi Mahruzar Lubis, Sp.PD FINASIM MKM, yang telah lebih dari 50 tahun mendalami Prana Sakti, memaparkan sejarah singkat perguruan ini. Prana Sakti didirikan oleh K.H. Drs. Asfanuddin Panjaitan pada 5 Maret 1975 di Yogyakarta, dan kini telah berkembang ke berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga luar negeri.
Menurutnya, latihan Prana Sakti mampu membentuk manusia seutuhnya: sehat spiritual, psikis, fisik, dan psikososial. “Sehat spiritual berarti bermoral baik kepada Tuhan dan manusia, sehat psikis mampu mengontrol emosi, sehat fisik dapat mencegah berbagai penyakit, serta sehat psikososial menumbuhkan akhlak baik dalam bermasyarakat,” jelasnya.
Kisah inspiratif juga datang dari salah satu anggota senior, Nazaruddin, yang mengaku sembuh dari penyakit jantung sejak aktif mengikuti latihan Prana Sakti pada tahun 1992. Ia menuturkan sempat diopname tiga hari, namun hingga kini tidak pernah lagi disarankan menjalani operasi jantung berkat latihan rutin tenaga dalam.
Puncak acara ditutup dengan penyerahan santunan berupa uang kepada puluhan anak yatim oleh Ketua Panitia Jaya Kesuma, SH dan Sekretaris Hj. Ulfa Pohan, S.Pd, disaksikan para tamu undangan dan anggota Prana Sakti. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama serta sesi foto sebagai bentuk kebersamaan.
Acara haul ini bukan hanya menjadi peringatan wafatnya Guru Besar K.H. Drs. Asfanuddin Panjaitan, tetapi juga momentum memperkuat kembali semangat perjuangan beliau dalam mengembangkan ilmu tenaga dalam Prana Sakti yang berpijak pada tauhid Islam. (Red)


















































