Singkawang, Tuntasnews.net – Perhelatan budaya tahunan Gawe Dayak Naik Dango (GDND) XXVI Kota Singkawang resmi dibuka dengan meriah di Rumah Adat Dayak, Rabu (27/5/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, 27 hingga 31 Mei 2026, menjadi momentum penting dalam melestarikan budaya Dayak, memperkuat toleransi antaretnis, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata dan UMKM.
Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi hari pukul 08.00 WIB melalui pelaksanaan Ritual Adat Panyangahatn yang dipimpin Suwito selaku Panyangahatn. Selain ritual adat, panitia juga menggelar kegiatan sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat pada pukul 13.00 WIB.
Selanjutnya, Misa Pembukaan dilaksanakan pada pukul 16.00 WIB dan dipimpin oleh RP Frederick Samri, OFMCap., didampingi para pastor dari Paroki Santo Fransiskus Assisi Singkawang dan Paroki Nyarumkop. Misa berlangsung khidmat sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen yang melimpah.
prosesi pembukaan resmi dimulai pukul 19.00 WIB dengan penyambutan tamu VIP yang diiringi barisan among tamu. Acara dilanjutkan dengan prosesi simbolis pengguntingan pita dan pemotongan bambu oleh Wali Kota Singkawang, ritual Basampakng Ka’ Jubata oleh Timanggong, hingga penyerahan hasil panen ke atas Angko.
Puncak pembukaan ditandai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Dayak, dilanjutkan penampilan Tari Kolosal dari Sanggar Seni Simpoer, laporan Ketua Panitia, serta sambutan Ketua Dewan Adat Dayak (DAD).

Pembukaan acara ditandai dengan prosesi pemukulan gong oleh Wali Kota Tjhai Chui Mie bersama Wakil Wali Kota Muhammadin, unsur Forkopimda, panitia, dan para tamu undangan. Suasana penuh semangat kebersamaan dan kekayaan budaya mewarnai jalannya pembukaan yang dihadiri tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat dari berbagai latar belakang.
Dalam sambutannya, Tjhai Chui Mie menegaskan bahwa keberagaman budaya yang hidup berdampingan di Singkawang merupakan kekuatan yang harus terus dijaga. Menurutnya, berbagai agenda budaya seperti Gawe Dayak Naik Dango menjadi simbol harmonisasi masyarakat multietnis sekaligus memperkuat identitas Singkawang sebagai miniatur indonesia.

Ketua Panitia GDND XXVI, Andreas Aan, mengatakan kegiatan tahun ini mengusung semangat pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan generasi muda sebagai penerus adat. Tema yang diangkat menekankan peran generasi muda sebagai penjaga tradisi dan penggerak masa depan budaya Dayak di tengah perkembangan zaman.
Selain menghadirkan ritual adat, karnaval budaya, perlombaan tradisional, dan hiburan rakyat, pelaksanaan GDND XXVI juga diharapkan memberi dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Sebanyak 80 stan UMKM turut meramaikan kegiatan dengan menampilkan beragam produk kuliner, kerajinan, hingga cenderamata khas Dayak dan Singkawang. Panitia bahkan menargetkan perputaran ekonomi mencapai Rp1,75 miliar selama pelaksanaan acara.

Dalam sambutannya, Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie, SE., MH., menyampaikan apresiasi terhadap keberagaman budaya dan kehidupan masyarakat yang harmonis di Kota Singkawang. Menurutnya, berbagai tradisi budaya yang hidup berdampingan semakin memperkuat identitas Singkawang sebagai miniatur Indonesia.
“Kita punya Cap Go Meh, Gawe Dayak, Ramadhan Fair, sebentar lagi ada Grebek Suro dan berbagai event budaya lainnya. Ini menunjukkan Singkawang layak disebut miniatur Indonesia,” ujar Tjhai Chui Mie.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Singkawang melalui Dinas Pariwisata akan terus mendorong penyelenggaraan agenda budaya secara rutin dengan target minimal 12 event budaya setiap tahun. Langkah tersebut diyakini mampu memperkuat sektor pariwisata sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Event budaya terbukti memberikan dampak ekonomi langsung, mulai dari tingkat hunian hotel, rumah makan, UMKM, hingga masyarakat kecil seperti juru parkir turut merasakan manfaatnya,” jelasnya.
Menurut Tjhai Chui Mie, Gawe Dayak tahun ini terasa semakin istimewa karena berdekatan dengan momentum Hari Raya Idul Adha yang dirayakan umat Muslim.
“Pagelaran Gawe Dayak tahun ini terasa semakin indah karena bertepatan dengan Idul Adha. Ini memperlihatkan kuatnya toleransi dan harmoni masyarakat di Singkawang,” ungkapnya
Sementara itu, Ketua Panitia Gawe Dayak Naik Dango XXVI, Andreas Aan, S.Ak., mengajak generasi muda Dayak untuk terus menjaga dan melestarikan budaya leluhur.
Ia menegaskan bahwa simbol budaya seperti mandau dan tarian tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan memiliki nilai spiritual dan filosofi yang mendalam.
“Mandau bukan hanya pusaka, tetapi amanat. Tarian tradisional sejatinya adalah doa leluhur yang harus kita junjung dan kembangkan demi kemajuan masyarakat Dayak,” tegas Andreas.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, panitia optimistis perhelatan tersebut juga akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pelaku usaha lokal. Mengacu pada capaian tahun-tahun sebelumnya, panitia menargetkan perputaran ekonomi melalui sektor UMKM mencapai Rp1,75 miliar selama lima hari pelaksanaan, mulai 27 hingga 31 Mei 2026.
Gawe Dayak Naik Dango XXVI Kota Singkawang diharapkan tidak hanya menjadi pesta rakyat yang menghibur, tetapi juga memperkokoh posisi Singkawang sebagai kota toleran yang mampu tumbuh melalui kekuatan budaya dan ekonomi masyarakat.
Melalui Gawe Dayak Naik Dango XXVI, masyarakat tidak hanya diajak menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat semangat toleransi, persatuan, dan kebangkitan ekonomi daerah. Perayaan budaya ini diharapkan terus menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus daya tarik wisata yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Dayak kepada khalayak yang lebih luas .
(Bernix)


















































